Jumat, 08 Oktober 2010 | By: Denny Willyanto

Kasih Itu Tidak Kasar


Kasih Itu Tidak Kasar
Tingkah laku kasar dapat berupa mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, memalukan atau menyakiti pasanganmu. Misalnya umpatan, tata karma yang semau-maunya atau lelucon yang menyinggung perasaan. Akar dari kekasaran hanyalah sikap acuh tak acuh dan egoisme. Kasih menuntut untuk memperlakukan pasangan sama seperti yang ingin kamu terima. Berlakulah penuh hormat seperti pada atasan di kantormu. Kasih harus mengajarmu untuk berubah. Maka sekarang tanyalah pada pasanganmu tiga hal yang menyebabkan dia erasa tidak nyaman dan terlukai olehmu. Lakukanlah ini tanpa menyerang pasanganmu atau membenarkan tingkah lakumu. Biarlah dia menjelaskan sudut pandangnya, dan terimalah dengan senang hati semua kekesalan dirinya.
Perkataan mulut orang berhikmah menarik, tetapi bibir orang bodoh menelan orang itu sendiri (Pkh 10:12)
Baca Selengkapnya>>>

Seorang Perempuan Samaria Datang untuk Menimba Air

        Seorang perempuan datang. Ia adalah simbol Gereja yang belum dijadikan benar, tetapi akan segera dijadikan benar. Kebenaran muncul dari percakapan. Ia datang dalam ketidaktahuan, ia menemukan Kristus, dan ia bercakap-cakap dengan-Nya. Marilah kita melihat tentangnya, marilah kita melihat mengapa seorang perempuan Samaria datang untuk menimba air. Bangsa Samaria bukan bagian dari bangsa Yahudi; mereka adalah orang-orang asing. Kenyataan bahwa perempuan itu datang dari suatu bangsa asing merupakan bagian dari makna simbolis, sebab perempuan itu adalah simbol Gereja. Gereja akan datang dari kaum kafir, dari suatu bangsa bukan Yahudi.


Jadi, patutlah kita mengenali diri kita sendiri dalam perkataannya dan dalam pribadinya, dan bersama perempuan itu menyampaikan syukur kita sendiri kepada Allah. Perempuan itu adalah simbol, bukan realita; ia mempratandakan realita, dan realita akan segera datang. Ia menemukan iman dalam Kristus, yang mempergunakannya sebagai suatu simbol untuk mengajarkan kepada kita apa yang akan datang. Perempuan itu lalu datang untuk menimba air. Ia memang datang hanya untuk menimba air, suatu hal yang lazim bagi laki-laki ataupun perempuan.

Yesus berkata kepadanya: Berilah Aku minum. Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Sebab itu, perempuan Samaria bertanya kepada-Nya: Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria? Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.

Bangsa Samaria adalah orang-orang asing; bangsa Yahudi tidak pernah mau mempergunakan barang-barang bangsa asing. Perempuan itu membawa sebuah timba untuk menimba air. Ia terheran-heran bahwa seorang Yahudi meminta minum kepadanya, suatu hal yang tak akan dilakukan orang-orang Yahudi. Tetapi Ia yang meminta minum haus akan imannya.

Sekarang dengarlah dan simaklah siapakah gerangan yang meminta minum. Yesus menjawab kepadanya dengan mengatakan: Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.

Yesus meminta minum, dan Ia menjanjikan minum. Ia membutuhkan, sebagai seorang yang berharap menerima, namun begitu Ia kaya, sebagai Dia yang hendak memuaskan dahaga yang lain. Ia berkata: Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah. Anugerah Allah adalah Roh Kudus. Akan tetapi Ia masih mempergunakan bahasa yang tersamar sementara Ia berbicara kepada si perempuan dan perlahan-lahan masuk ke dalam hatinya. Atau adakah Ia telah mengajarinya? Adakah yang terlebih lembut dan murah hati dari semangat yang Ia berikan? Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.

Apakah air ini yang hendak Ia berikan jika bukan air yang dibicarakan dalam Kitab Suci: Sebab pada-Mu ada sumber hayat? Bagaimanakah dapat merasa haus mereka yang akan meneguk dalam-dalam dari kelimpahan di rumah-Mu?

Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan memuaskan secara berlimpah. Perempuan itu belum mengerti. Dalam ketidakmampuan menangkap makna perkataan-Nya, apakah jawabnya? Perempuan itu berkata kepada-Nya: Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air. Kebutuhannya memaksanya melakukan pekerjaan ini, kelemahannya menyusut darinya. Jika saja ia dapat mendengar kata-kata ini: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Yesus mengatakan ini kepadanya, agar susah-payah kerjanya berakhir; tetapi ia belum dapat memahaminya.
Baca Selengkapnya>>>

Rabu, 06 Oktober 2010 | By: Denny Willyanto

Allah Menciptakan Mereka sebagai Laki-laki dan Perempuan

          Laki-laki dan perempuan diciptakan, artinya, dikehendaki Allah dalam persamaan yang sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan dan kewanitaannya. “Kepriaan” dan “kewanitaan” adalah sesuatu yang baik dan dikehendaki Allah: keduanya, laki-laki dan perempuan, memiliki martabat yang tidak dapat hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Pencipta-nya. Keduanya, laki-laki dan perempuan, bermartabat sama “menurut citra Allah”. Dalam kepriaan dan kewanitaannya mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Pencipta.


Allah Sendiri sama sekali tidaklah menurut citra manusia. Ia bukan laki-laki, bukan juga perempuan. Allah adalah Roh murni, pada-Nya tidak bisa ada perbedaan jenis kelamin. Namun dalam “kesempurnaan-kesempurnaan” laki-laki dan perempuan tercermin sesuatu dari kesempurnaan Allah yang tidak terbatas: ciri khas seorang ibu dan ciri khas seorang ayah dan suami.

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan secara bersama dan menghendaki yang satu untuk yang lain. Sabda Allah menegaskan itu bagi kita melalui berbagai tempat dalam Kitab Suci: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan pernolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Dari antara binatang-binatang manusia tidak menemukan satu pun yang sepadan dengan dia (Kejadian 2:19-20). Perempuan yang Allah “bentuk” dari rusuk laki-laki, dibawa kepada manusia. Lalu berkatalah manusia yang begitu bahagia karena persekutuan dengannya. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kejadian 2:23). Laki-laki menemukan perempuan itu sebagai aku yang lain, sebagai sesama manusia.
<!-more->
Laki-laki dan perempuan diciptakan “satu untuk yang lain”, bukan seakan-akan Allah membuat mereka sebagai manusia setengah-setengah dan tidak lengkap, melainkan Ia menciptakan mereka untuk satu persekutuan pribadi, sehingga kedua orang itu dapat menjadi “penolong” satu untuk yang lain, karena di satu pihak mereka itu sama sebagai pribadi (“tulang dari tulangku”), sedangkan di lain pihak mereka saling melengkapi dalam kepriaan dan kewanitaannya. Dalam perkawinan, Allah mempersatukan mereka sedemikian erat sehingga mereka “menjadi satu daging” (Kejadian 2:24) dan dapat meneruskan kehidupan manusia: “Beranak-cuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi” (Kejadian 1:28). Dengan meneruskan kehidupan kepada anak-anaknya, laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri dan orangtua bekerjasama dengan karya Pencipta atas cara yang sangat khusus.

Menurut rencana Allah, laki-laki dan perempuan memiliki panggilan supaya sebagai “wakil” yang ditentukan Allah “menaklukkan dunia”. Keunggulan ini tidak boleh menjadi kelaliman yang merusak. Diciptakan menurut citra Allah, yang “mengasihi segala yang ada” (Kebijaksanaan 11:24), laki-laki dan perempuan terpanggil untuk mengambil bagian dalam penyelanggaraan ilahi untuk makhluk-makhluk lain. Karena itu, mereka bertanggung jawab untuk dunia yang dipercayakan Allah kepada mereka.
dikutip dari:
Katekismus Gereja Katolik, #369 - #373
Baca Selengkapnya>>>